Menanti Revitalisasi Tahura Pancoran Mas Depok. Kota Depok sering kali di identikkan dengan kemacetan Jalan Margonda, pertumbuhan hunian yang masif, serta pusat perbelanjaan yang menjamur. Namun, di balik hiruk-pikuk beton tersebut, tersimpan sebuah warisan alam yang sangat berharga namun sering terabaikan Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas. Sebagai cagar alam tertua di Indonesia setelah Cibodas, Tahura Pancoran Mas memikul beban sejarah sekaligus harapan besar bagi keberlangsungan ekosistem perkotaan. Saat ini, publik tengah menanti realisasi revitalisasi yang di janjikan pemerintah untuk mengubah kawasan ini dari sekadar “hutan yang terkunci” menjadi ruang terbuka hijau yang edukatif dan rekreatif.
Menanti Jejak Sejarah Cagar Alam Tertua
Tahura Pancoran Mas bukan sekadar lahan kosong penuh pepohonan. Kawasan ini memiliki nilai historis yang luar biasa, bermula dari masa kolonial Belanda. Dahulu, kawasan ini merupakan bagian dari tanah milik Cornelis Chastelein yang kemudian di hibahkan untuk kepentingan umum.
Warisan Dari Era Kolonial
Pada tahun 1714, lahan ini di tetapkan sebagai cagar alam. Keputusan ini menjadikannya salah satu kawasan konservasi tertua di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Luas awalnya mencapai puluhan hektare, menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik Jawa yang kini mulai langka.
Penyusutan Lahan Dan Tantangan Urbanisasi
Seiring berjalannya waktu, luas Tahura Pancoran Mas terus menyusut. Dari yang semula mencapai puluhan hektare, kini hanya tersisa sekitar 6 hingga 7 hektare saja. Penyusutan ini di akibatkan oleh tekanan urbanisasi, pembangunan permukiman, hingga okupansi lahan secara ilegal. Hutan ini kini tampak terhimpit di tengah padatnya pemukiman penduduk, seolah sedang berjuang untuk bernapas di tengah kepungan polusi dan kebisingan kota.
Kondisi Terkini Antara Potensi Dan Penelantaran
Bagi warga Depok yang melintasi kawasan Pancoran Mas, pemandangan pagar besi yang berkarat dan rimbunnya pepohonan yang tidak terawat menjadi pemandangan biasa. Statusnya sebagai “Cagar Alam” sebelumnya memang membatasi akses publik demi menjaga keaslian ekosistem, namun hal ini justru berdampak pada kurangnya pengawasan dan perawatan.
Masalah Sampah Dan Keamanan
Salah satu tantangan terbesar yang di hadapi Tahura saat ini adalah masalah sampah. Karena lokasinya yang bersinggungan langsung dengan pemukiman, tidak jarang oknum warga membuang sampah ke area pinggiran hutan. Selain itu, minimnya penerangan di sekitar kawasan pada malam hari memunculkan kerawanan sosial.
Keanekaragaman Hayati Yang Tersisa
Meski kondisinya memprihatinkan, Tahura Pancoran Mas masih menyimpan kekayaan hayati. Berbagai jenis burung, reptil, dan pepohonan tua seperti pohon karet, beringin, dan beberapa jenis tanaman langka masih bertahan hidup. Potensi inilah yang ingin di selamatkan melalui proses revitalisasi, agar fungsi ekologisnya sebagai penyerap karbon dan daerah resapan air tidak hilang di telan pembangunan.
DI BACA JUGA : BNN Bongkar Pabrik Narkoba Jaringan Internasional
Urgensi Revitalisasi Mengapa Harus Sekarang
Rencana revitalisasi Tahura Pancoran Mas bukan sekadar proyek estetika untuk mempercantik kota. Ada urgensi mendalam di balik upaya ini yang menyangkut kualitas hidup warga Depok secara keseluruhan.
-
Pengendalian Banjir: Pancoran Mas merupakan salah satu wilayah yang rawan genangan. Dengan revitalisasi yang tepat, Tahura dapat berfungsi optimal sebagai daerah tangkapan air (catchment area).
-
Edukasi Lingkungan: Masyarakat Depok, terutama generasi muda, membutuhkan laboratorium alam yang dekat dengan tempat tinggal mereka untuk mempelajari ekosistem hutan tropis.
-
Ruang Terbuka Hijau (RTH): Depok masih kekurangan proporsi RTH yang ideal sesuai amanat undang-undang. Mengaktifkan kembali Tahura akan menambah ketersediaan ruang publik yang sehat.
Konsep Menyeimbangkan Konservasi Dan Rekreasi
Pemerintah Kota Depok bersama pemerintah pusat tengah menggodok konsep revitalisasi yang kabarnya akan mengadopsi model pembangunan berkelanjutan. Tantangan utamanya adalah bagaimana membuka akses bagi masyarakat tanpa merusak ekosistem yang ada.
Menanti Pembangunan Jogging Track Dan Eco Edu Tourism
Salah satu rencana yang di nanti adalah pembangunan jalur pejalan kaki (jogging track) atau jembatan layang kayu (wooden boardwalk) yang memungkinkan pengunjung mengitari hutan tanpa menginjak tanah secara langsung. Konsep ini bertujuan untuk meminimalisir kerusakan pada akar pohon dan habitat bawah hutan.
Fasilitas Edukasi Dan Museum Kecil
Revitalisasi ini juga di harapkan mencakup pembangunan pusat informasi atau museum kecil yang menceritakan sejarah Tahura Pancoran Mas. Dengan adanya edukasi visual, masyarakat akan lebih menghargai keberadaan hutan ini dan ikut menjaganya.
Menanti Harapan Masyarakat Dan Langkah Ke Depan
Menanti revitalisasi Tahura Pancoran Mas memerlukan kesabaran, namun juga pengawasan aktif dari masyarakat. Warga berharap proyek ini tidak berakhir sebagai wacana tahunan yang selalu muncul menjelang pemilihan daerah, namun segera di eksekusi dengan perencanaan yang matang.
Menanti Pelibatan Komunitas Lokal
Kunci keberhasilan revitalisasi terletak pada pelibatan komunitas lokal. Para pegiat lingkungan di Depok harus dilibatkan dalam perencanaan hingga pengawasan saat pembangunan berlangsung. Tanpa rasa kepemilikan dari warga sekitar, fasilitas yang di bangun nantinya akan rentan terhadap kerusakan dan vandalisme.
Pengawasan Pasca Revitalisasi
Setelah revitalisasi selesai, tantangan berikutnya adalah pemeliharaan. Pemerintah perlu menyiapkan anggaran rutin dan petugas khusus (ranger) yang memastikan keamanan dan kebersihan kawasan. Tahura harus tetap menjadi tempat yang aman bagi satwa dan nyaman bagi manusia.
Menanti Menuju Depok Yang Lebih Hijau
Tahura Pancoran Mas adalah simbol ketahanan alam di tengah gempuran modernitas. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya di ukur dari megahnya gedung pencakar langit, tetapi juga dari seberapa baik kota tersebut menjaga warisan alamnya. Revitalisasi yang kita nantikan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga revitalisasi kesadaran kita sebagai warga kota untuk kembali selaras dengan alam. Semoga dalam waktu dekat, kita bisa melihat Tahura Pancoran Mas Depok kembali bersinar, menjadi jantung hijau yang memberikan oksigen segar bagi setiap napas warga Depok.


Tinggalkan Balasan