Integritas Guru SD Klaten Tolak Gratifikasi Rapor. Di tengah desas-desus mengenai praktik-praktik tidak etis yang terkadang mewarnai dunia pendidikan, sebuah kisah inspiratif datang dari pelosok Klaten, Jawa Tengah. Kisah ini bukan tentang sebuah pencapaian akademik yang gemilang atau inovasi pembelajaran yang revolusioner, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar dan krusial: integritas. Adalah Ibu Siti Rahmawati (nama samaran), seorang guru sekolah dasar yang mengajar di salah satu SD negeri di pedesaan Klaten, yang dengan tegas menolak segala bentuk gratifikasi terkait pembagian rapor siswa. Tindakannya ini mungkin terlihat sederhana, namun memiliki resonansi yang kuat, menjadi sebuah mercusuar etika di tengah tantangan budaya “uang pelicin” yang masih kerap di jumpai.
Integritas Akar Masalah Budaya Gratifikasi di Lingkungan Pendidikan
Praktik gratifikasi, meski seringkali di anggap “wajar” atau sebagai bentuk “terima kasih” semata, sesungguhnya adalah benih korupsi yang dapat mengikis kepercayaan publik terhadap institusi. Di dunia pendidikan, fenomena ini sering muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pemberian bingkisan, uang tunai, hingga barang mewah, terutama pada momen-momen krusial seperti penerimaan siswa baru, kelulusan, atau pembagian rapor.
Bentuk Dan Dampak Gratifikasi Rapor
Gratifikasi rapor, misalnya, dapat bermanifestasi sebagai amplop berisi uang yang di selipkan orang tua saat mengambil rapor, atau hadiah-hadiah khusus dengan harapan nilai siswa bisa diubah atau di perbaiki. Meskipun niat orang tua mungkin bervariasi ada yang tulus berterima kasih, ada pula yang memiliki motif tersembunyi dampaknya tetap merusak.
Pertama, ini menciptakan persepsi bahwa nilai akademik bisa “dibeli,” mengikis esensi dari meritokrasi dan kerja keras. Kedua, hal ini menempatkan guru dalam posisi sulit dan berpotensi melanggar kode etik profesi. Ketiga, dan yang paling berbahaya, ini mengajarkan kepada siswa bahwa integritas dapat di kompromikan, menanamkan bibit korupsi sejak dini. Anak-anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa segala sesuatu bisa diatur dengan uang, sebuah pelajaran yang sangat berbahaya bagi masa depan bangsa.
Tekanan Dan Dilema Integritas Guru
Tidak bisa di pungkiri, guru juga menghadapi tekanan. Gaji yang mungkin belum memadai, serta budaya masyarakat yang mengharapkan “toleransi” dalam pemberian nilai atau perlakuan khusus, dapat menjadi dilema moral yang berat. Namun, di sinilah integritas seorang guru diuji. Apakah mereka akan tunduk pada tekanan atau tetap teguh pada prinsip kebenaran?
Keteguhan Ibu Siti Sebuah Penolakan Berprinsip
Ibu Siti Rahmawati, dengan pengalamannya mengajar selama lebih dari dua puluh tahun, telah menyaksikan berbagai dinamika di sekolah. Namun, ia tak pernah goyah dalam prinsipnya. Kisah penolakannya terhadap gratifikasi rapor ini berawal dari momen pembagian rapor akhir semester.
Kronologi Penolakan
Beberapa orang tua siswa, dengan niat yang mungkin beragam, mencoba memberikan amplop berisi uang atau bingkisan makanan kepada Ibu Siti setelah menerima rapor anak mereka. Dengan senyum ramah namun tegas, Ibu Siti selalu mengembalikan pemberian tersebut. “Terima kasih banyak atas perhatian Bapak/Ibu. Tugas saya mendidik anak anak, dan itu sudah menjadi kewajiban saya. Nilai anak Bapak/Ibu adalah hasil kerja keras mereka sendiri, bukan karena ada pemberian ini,” ujarnya, selalu dengan nada yang sopan namun tidak memberi ruang untuk negosiasi.
Penolakannya ini bukan tanpa konsekuensi. Beberapa orang tua mungkin merasa canggung atau bahkan tersinggung. Namun, Ibu Siti percaya bahwa menyampaikan kebenaran, bahkan jika itu tidak populer, adalah bagian dari tugasnya sebagai pendidik. Ia lebih memilih untuk mengajarkan nilai integritas secara langsung, melalui tindakannya, daripada hanya sekadar di buku pelajaran.
Dampak Positif Dan Efek Domino
Tindakan Ibu Siti mulai menciptakan efek domino di lingkungan sekolahnya. Guru-guru lain, yang awalnya mungkin merasa ragu, kini memiliki teladan yang jelas. Kepala sekolah pun memberikan dukungan penuh, bahkan membuat edaran resmi yang melarang praktik gratifikasi dalam bentuk apa pun. Lingkungan sekolah kini secara perlahan bertransformasi menjadi lebih transparan dan akuntabel.
Orang tua siswa yang awalnya mencoba memberi gratifikasi, kini mulai memahami. Mereka melihat bahwa Ibu Siti adalah sosok yang adil, yang menilai siswa berdasarkan kemampuan murni, bukan berdasarkan besar kecilnya “hadiah.” Kepercayaan orang tua terhadap sekolah pun meningkat, karena mereka tahu bahwa anak-anak mereka di nilai secara objektif dan jujur.
DI BACA JUGA : Siswa Skizofrenia Purbalingga Bermimpi Jadi Ilmuwan
Integritas Sebagai Pondasi Pendidikan Berkarakter
Kisah Ibu Siti Rahmawati dari Klaten adalah pengingat bahwa integritas adalah pondasi utama dalam membangun pendidikan yang berkualitas dan berkarakter. Tanpa integritas, kurikulum terbaik sekalipun akan kehilangan maknanya, dan upaya pembentukan karakter hanya akan menjadi retorika kosong.
Peran Penting Kode Etik Profesi Guru
Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu terus memperkuat sosialisasi dan implementasi kode etik profesi guru. Kode etik ini bukan sekadar dokumen formal, melainkan panduan moral yang harus di pegang teguh oleh setiap insan pendidik. Pelatihan etika, sistem pelaporan yang transparan, dan sanksi yang tegas bagi pelanggar adalah bagian integral dari upaya ini.
Membangun Budaya Antigratifikasi Dari Hulu ke Hilir
Upaya memerangi gratifikasi di sektor pendidikan harus di lakukan secara menyeluruh, dari hulu ke hilir. Ini mencakup peningkatan kesejahteraan guru, sosialisasi kepada orang tua siswa tentang bahaya gratifikasi, serta penanaman nilai-nilai antikorupsi sejak dini kepada siswa. Masyarakat juga harus dilibatkan untuk menciptakan lingkungan yang tidak permisif terhadap praktik-praktik tidak etis.
Ibu Siti Sebagai Inspirasi
Ibu Siti Rahmawati mungkin hanya seorang Guru di sebuah sekolah dasar kecil di Klaten, namun tindakannya memiliki dampak yang besar. Ia telah menunjukkan bahwa satu orang dengan integritas kuat dapat mengubah paradigma, menginspirasi lingkungan sekitarnya, dan pada akhirnya, berkontribusi pada penciptaan generasi yang lebih jujur dan berkarakter. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa pahlawan sejati pendidikan tidak selalu mereka yang menciptakan metode baru, melainkan mereka yang menjaga api integritas tetap menyala terang di hati setiap anak didiknya.


Tinggalkan Balasan